Sabtu, 03 Juli 2010

Curhatan Mentari



Kulihat mentari tak seperti biasanya
cahayanya meredup, sapaannya dingin..
Mentari kali ini tak menerpa kulitku dengan kehangatan, yang kurasakan hanya dingin menusuk tulang

wahai mentari ada apa gerangan denganmu?
ceritalah padaku!!




“aku sedih.. sedih sekali..
Dulu.. saat aku terbit, aku mendengar tasbih, tahmid, takbir dan istighfar, bahkan lantunan ayat-ayat suci Allah dari hamba-hamba Rabb-ku yang senantiasa berdzikir
Dan mereka menyambutku dengan segenap rasa syukur..
Tapi kini..
Aku tak mendengar lagi suara-suara itu..
Yang aku dengar hanyalah celaan dan dengkuran
Mereka mencelaku karna mengganggu dengkuran mereka..
Tasbih, tahmid dan dzikir yang dulu slalu kudengar kini sudah tak ada
Padahal dulu, semua itu membuatku bersemangat untuk terbit di pagi hari..
Kini yang kudengar hanyalah dengkuran, musik dan nyanyian
Dulu mereka gunakan cahayaku untuk membaca Al-Qur’an
Tapi kini mereka gunakan cahayaku hanya untuk baca Koran, Majalah, Novel dan Komik
Kalau bukan karna perintah Rabb-ku, niscaya aku tak mau lagi berjalan
Rasanya aku ingin sekali untuk berhenti bersinar..
Aku rindu orang-orang yang dulu ku dengar suaranya
Yang senatiasa menyambutku dengan lantunan dzikir, do’a dan Al-Qur’an….”

kemudian sang mentari diam seribu bahasa..
dan akhirnya menangis hingga
Air matanya barcucuran membasahi bumi..

*jangan buad sang mentari bersedih sahabat!!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar