Sunday, July 24, 2011

Lakukanlah dengan Hati

              “Kau sangat ingin debut?” tanya Oh Hyuk, melihat Hye Mi yang terlihat sangat gembira.
            “Tentu saja, jika debut aku bisa membayar  hutang-hutang kita. Aku juga bisa membayarmu.” Ujar Hye Mi.
            “Kalau itu alasanmu, lebih baik tidak usah debut. “ kata Oh Hyuk dengan tenang.
            Itu adalah petikan percakapan Oh Hyuk -guru sebuah sekolah musik- dengan Hye Mi -salah seorang siswinya- dalam drama Dream High episode sebelas. Jika kita memperhatikan percakapan itu dengan teliti tentu kita bisa menemukan sesuatu pesan yang aku rasa itu sangat berguna untuk kita. Kalau aku bisa tebak dari penilaian sudut pandangku inti pesannya itu, “Lakukanlah dengan hati.”

Friday, July 22, 2011

Sekarang Siput, Besok Kuda


‎"Drama ini masih jauh dari akhir. Jadi jangan khawatir jika segala sesuatu berjalan lambat. Dibandingkan mereka yang berjalan cepat, orang yang berjalan lambat bisa melihat segala sesuatu dengan lebih jelas. Jika kau menanyakan padaku siapa yang memiliki potensi yang lebih besar, maka orang yang berjalan lebih lambat akan lebih berhati-hati dan berpengalaman."

Monday, July 11, 2011

Lebih dari Sekedar Harta Karun

Semalem iseng nggledah ruangan belakang yang udah lebih mirip gudang penyimpanan barang-barang ga kepake', aku nemuin sebuah buku yang terjepit diantara tumpukan barang-barang berdebu.
Fuh, setelah kubersihkan aku menjumpai sebuah buku dengan judul yang cukup membuatku berpikir dan bertanda tanya setidaknya dalam hitungan beberapa detik sebelum aku membuka lembar halaman berikutnya.
Dibuku yang ku temukan dalam kondisi sangat amat tua, kumal, lusuh dan nyaris lapuk puk puk. Aku masih bisa dengan jelas membaca sebuah judul "TALMUD dan AMBISI YAHUDI"
Covernya bergambar bintang david yang melingkar ular dengan tetesan darah, hiiii dari cover udah terlihat seremnya.

Monday, July 4, 2011

Jalan Cinta Para Pejuang

Rasa memiliki seringkali membawa kelalaian. Kata orang Jawa, Milik nggendhong lali. Maka menjadi seorang manusia yang hakikatnya hamba adalah belajar untuk menikmati sesuatu yang bukan milik kita, sekaligus mempertahankan kesadaran bahwa kita hanya dipinjami. Inilah sulitnya. Tak seperti seorang tukang parkir yang hanya dititipi, kita diberi bekal oleh Allah untuk mengayakan nilai guna karuniaNya. Maka rasa memiliki kadang menjadi sulit ditepis..