Senin, 13 Mei 2013

Mempertanyakan Pemuda


Bismillahirrohmaanirrohiim…

Menelisik sejarah pendiri negeri, bagaimana tentang Haji Agus Salim? Di zaman penjajahan, dimana pendidikan adalah barang langka, namun semangatnya untuk belajar begitu luar biasa.
Statusnya yang berasal dari keluarga miskin membuat ia harus berlapang dada untuk tak mendapatkan beasiswa sebagai haknya, hak atas kerja kerasnya yang membuat ia menjadi Pelajar Terbaik pada zamannya.


Pemuda yang memiliki izzah begitu luar biasa ini dengan tegas menolak pemberian beasiswa studi ke Belanda, setelah diketahui bahwa salah seorang pejuang negeri ini ternyata mengajukan protes terhadap pemerintahan hindia-belanda saat itu agar Haji Agus Salim mendapat beasiswa studi ke Belanda. Ujarnya, “Meskipun saya tidak belajar di Belanda, saya akan memiliki kemampuan seperti orang Belanda.”
Terbukti, ia mampu kuasai 7 bahasa asing.
Bahkan tak hanya itu saja, sejarah mencatat dialog ia yang mempermalukan Ratu Belanda, diplomasi yang hebat dari seorang Haji Agus Salim.
Lulusan yang setara dengan SMA untuk saat ini, namun ia mampu menjadi pengajar di universitas terkemuka di Amerika.

Tak kah kau cemburu, hei mahasiswa?

Ataukah kita coba tengok Muhammad Hatta yang diusianya berbilang 27 tahun telah mampu menggerakkan pemuda-pemuda hindia-belanda dan memimpin sidang tingkat dunia di Belgia, membahas tentang bagaimana memerdekakan negeri-negeri terjajah.

Adakah saya bertanya pada diri, “Hei, Eldira, 8 tahun lagi kau akan memimpin sidang dunia dimana?”

Pemuda yang semasa studinya ini berujar, “Saya lebih memilih lapar, demi membeli buku.” Atau kisahnya yang mengabadi, “Saya membutuhkan waktu tiga bulan untuk menata buku-buku di rumah.”

Bisakah kita bayangkan berapa banyaknya jumlah buku yang ia miliki saat itu?

Coba tengok lemari kita, akankah ia berbanding terbalik dengan jumlah buku kita?


Adalah semangat berilmu mereka membuat cemburu.

Saya tak coba mengulas sejarah lebih lampau, tentang bagaimana para Imam terdahulu yang mungkin rata-rata bisa dikatakan ensiklopedis, mereka tak hanya alim di satu bidang pakar ilmu, tapi di banyak bidang ilmu.

Semakin malulah diri ini.

Ketika para mahasiswa Jerman berlomba mematenkan penemuan, kita disini duduk santai, inikah 'agent of change' yang sering kita gaungkan?
Kritik yang bertabur pada pemimpin negeri, tak cobakah sejenak kita tengok diri ini, “Pemuda hari ini adalah pemimpin di masa depan.”
Bagaimana kelak nasib negeri yang terlanjur bobrok jika pemudanya seperti … saya ambil contoh adalah saya sendiri.
Pernahkah sejenak kita pertanyakan pada diri, apa yang dapat saya kontribusikan untuk negeri ini?

Kali ini saya tak ingin ikut campur dalam pembahasan korupsi yang merajalela di kancah perpolitikan negeri, saya hanya ingin mewakili status saya sebagai calon penerus masa depan, bagaimana melakukan perubahan dimulai dari diri sendiri.

Ya mungkin dengan salah satunya malam ini saya harus kerja keras menekuni materi untuk kuis besok Senin, penerapan “Jujur Harga Mati” harus terealisasi sejak dini.
Saya tak ingin mengajak kalian untuk sependapat dengan saya, hanya saja cobalah ingat-ingat bagaimana akhlak Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sanggupkah engkau ingkari julukan as siddiq yang melekat padanya, tak kau ingin jadikan beliau sebagai teladan?

“Jujur Harga Mati” Ah kenapa tiga kata tersebut malah mengingatkan pada tulisan saya yang ditolak salah satu majalah, hehe nampaknya saya mulai ngaco.

Oke selamat malam, doakan saya sukses untuk kuis besok :D

Jember, 12 Mei 2013

Tidak ada komentar:

Posting Komentar