Sabtu, 16 November 2013

Jualan, Ngajak Syar'i




BismiLlahirrohmaanirrohiim


Dalam jual beli terdapat batasan-batasan yang harus diketahui salah satunya ialah dilarangnya menjual barang-barang yang diharamkan syariat seperti minuman keras atau alat-alat musik yang diharamkan dll. Apabila barang yang dijual yang hukum asalnya halal seperti pakaian maka itu sudah menjadi tanggung jawab sang pembeli dan bukan tanggung jawab sang penjual lagi. Seperti orang yang menjual pisau, lalu pisau itu digunakan untuk membunuh maka si penjual pisau sama sekali tidak bertanggung jawab karena si pembeli pisaulah yang bersalah dalam penggunaannya.

Dalam pendapat lain, meskipun hukum asalnya mubah, namun hal tersebut bisa dikategorikan subhat sehingga lebih baik dihindari. Kita memang gak tau pastinya tujuan seseorang membeli aksesoris itu untuk apa. Bisa untuk hadiah, dipakai sendiri
biar khimarnya tampak lebih indah, atau dipakai didalam rumah untuk menyambut suami tercinta. Tetapi kalau pada umumnya nih, aksesoris (ex: bros) pastinya dipakai untuk memperindah khimar ataupun baju seseorang. 

Mengapa terkategori subhat?
Emmm... kita tengok tentang pembahasan tabaruj dulu.
Tabarruj adalah menampakkan perhiasaan, dan semua hal yang bisa merangsang syahwat laki-laki. Dengan kata lain, tabarruj adalah hukum lain yang berbeda dengan hukum menutup aurat dan hukum wanita mengenakan kerudung dan jilbab. Walaupun seorang wanita telah menutup aurat dan berbusana syar’i. Namun tidak menutup kemungkinan ia melakukan tabarruj. Contohnya berjilbab (baju/gamis) dan berkhimar tetapi masih menggunakan aksesoris yang mencolok dan menarik perhatian.

Nah, disinilah letak kesubhatannya, kita bisa dikatakan memfasilitasi muslimah untuk bertabaruj ketika menjual barang-barang yang kemungkinan besar/ biasanya digunakan mereka untuk lebih memperindah penampilannya.

Tafadhol pilih pendapat yang mana. Hukum asalnya mubah.

1 komentar: