Jumat, 18 November 2011

Undangan Hati

Undangan Hati
El Mukarrima

            Hari ini aku lelah sekali, ospek mahasiswa baru telah merampas seluruh perhatianku bahkan juga fisikku. Berangkat pagi pulang petang. Tubuhku yang dipenuhi atribut mulai dari pita warna-warni, kaos kaki selutut, tas ransel yang dibuat dari keranjang anyaman, seolah menjadi hal biasa bagi diriku semenjak dua hari lalu.

            Banyak pasang mata menatapku aneh, ah aku tak peduli, tubuhku lebih membutuhkan perhatian ekstra, terutama mataku yang sudah tak kuasa menahan rasa kantuk yang teramat.
            Ku tengok jam yang masih melingkar di tangan kiriku, jam menunjuk angka 17:15, pantas saja matahari tak terlihat, nampaknya ia telah kembali ke peraduannya, aku mulai melajukan motor maticku ke arah barat, ku lajukan motor di kecepatan 80km/h, aku ingin cepat sampai di rumah, meskipun nanti jam 19:00 aku sudah harus berada di kampus lagi. Yah setidaknya ada waktu satu jam lebih untukku merelaksasikan tubuh yang mulai terasa tidak karuan.
            Lima belas menit berlalu, gerbang biru setinggi satu meter yang nampak di pupil cokelatku membuatku sedikit sumringah. Tanpa menunggu hitungan menit, aku bergegas memarkir motor dan segera masuk ke dalam rumah, sebuah surat undangan bernuansa keemasan tergeletak di atas meja, tapi hal itu tak cukup membuatku tertarik untuk membukanya, tubuhku terlalu lelah untuk menciptakan rasa penasaran apa yang ada dibalik sebuah kartu undangan keemasan itu.
            Bruuuuk aku menjatuhkan diri di atas ranjang empukku, berelaksasi sejenak melepas lelah.
***
Pertama kali aku tergugah
Dalam setiap kata yang kau ucap
Bila malam tlah datang
Terkadang ingin ku tulis semua perasaan

Kata orang rindu itu indah
Namun bagiku ini menyiksa
Sejenak ku fikirkan untuk ku benci saja dirimu
Namun sulit ku membenci


            Sreeeet.. sreeet.. ujung pensilku merekam sebuah memoar setahun silam ke dalam sebuah sketsa wajah seseorang yang memiliki rambut bergelombang, mata sipit dengan senyum simetris, alis tebal, bibir tipis dan dagu lancip. Alunan melodi jazz mengalun merdu menemaniku memutar setiap lekukan wajah di atas kertas gambar.
            PLETAK, aku membuang pensil itu jauh-jauh, entah rasa kesal itu muncul darimana seolah aku mulai membenci gambar yang nyaris sempurna.
            “Neng..” suara panggilan itu, aku semakin terngiang sesosok pemuda dengan tubuh kurus nan tinggi.
            Aaaaaaarrrrrgghhh… aku berlari memendamkan kepalaku dibalik bantal.
            “Aku membencimu” isakku pelan, drama singkat di lipatan otakku kembali terputar. Adegan berlarian menerobos rintik hujan bersama seorang pemuda yang telah menemaniku sekian tahun menjadi semakin kompleks ketika lagu yang mengalun merdu itu seolah ikut andil dalam penyiksaan batinku kini, lagu yang terputar semakin mengingatkan diriku dengan pemuda itu, lagu favoritku dengannya.

Pejamkan mata bila kuingin bernafas lega
Dalam anganku aku berada disatu
persimpangan jalan yang sulit kupilih


            Ya, sudah setahun masa indah itu. Meskipun tanpa susunan lisan yang jelas, hubunganku dengan pemuda yang bernama Artur memang telah berakhir. Dan aku pun mencoba menerima kenyataan bahwa Artur telah memiliki wanita lain disampingnya.
            Tapi ada satu hal yang sampai detik ini tak bisa hilang dari diriku, aku seringkali tanpa sadar mengingatnya. Ketika aku berusaha keras melupakan dirinya. Ah Artur, kau begitu menyiksaku.
***
            Akhirnya ospek usai, telah kuhabiskan beberapa kilogram lemakku untuk mengikuti ospek mahasiswa baru seminggu lalu. Lumayan lah, meskipun tak harus diet aku kehilangan tiga kilogram berat badanku, bajuku terasa longgar dari biasanya. Rasa penat yang menggelayuti pikiran dan fisiku telah hilang juga, iseng aku mulai berselancar ke dunia maya, sebuah situs jejaring social facebook mulai menggiurkan jari jemariku untuk memasuki lingkupnya.
            “Klik” bunyi satu pesan muncul dari account facebookku, rasa tak percaya seolah membuyarkan rasa nyamanku kali ini. Aku mengeja nama pengirim pesan dengan terbata-bata “Artur Fernandis” sebuah nama yang sangat tak asing lagi untuk ku dengar.
            “Hi neng” sapa Artur.
            Aku yang masih begitu tak percaya dengan kemunculannya seolah tercekat dalam kebisuan, aku tak membalas pesannya, dan “klik” detik kemudian pesan dari Artur lagi meneruskan kalimatnya “Doakan semoga acara nikah abang berjalan dengan lancar ya neng.”
            Sebaris kalimat lagi membuatku semakin tercekat mati dalam kerongkongan, “GLEK” apa-apaan ini, nikah? Oh aku yakin Artur sedang mengajakku bercanda.
            “Iya bang, pasti datang kok, santai saja. Kirim saja undangannya ke rumah neng.” Balasku dengan santai.
            “Loh emang undangannya belum sampai neng? Seminggu lalu abang ke rumah neng buat nganterin undangan, tapi neng nggak ada jadi abang titipin ke mama neng.”
            Otakku bekerja dengan saat ringan memberikan putaran kaset memoar ketika hari sepulang ospek aku menemukan sebuah undangan keemasan tergeletak diatas meja tanpa perlakuan. Dengan berjalan gemetaran aku berjalan cepat ke arah meja tamu, sebuah kartu undangan masih berada disana persis seperti yang kulihat seminggu lalu.
            Aku mencoba membuka dengan degup jantung yang semakin tak beraturan, sebuah nama pasangan “Artur Fernandis” dengan “Mega Putri” tercetak jelas di sampul undangan. Kakiku melemas, “tidak ini hanya mimpi” aku mencoba berkilah, namun belum saja aku menenangkan hati, mama muncul dibelakangku “Itu undangan seminggu lalu dari Artur.”

Ku peluk semua indah hidupku
Hikmah yang ku rasa sangat tulus
Ada dan tiada cinta bagiku tak mengapa
Namun ada yang hilang separuh
Diriku 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar