Minggu, 20 Oktober 2013

Mendekati Fajar


Makin gelap, makin gelap, makin gelap, makin dekat kepada fajar.

Jam 7 malam itu gelap, jam 9 malam makin gelap, dan jam 2 pagi jauh lebih gelap.


Perang Badar itu gelap. Perang dengan bapak sendiri, perang dengan adik sendiri, saudara sendiri. Sangat menyakitkan. Perang Uhud lebih gelap lagi. Mengapa? Karena kalah. Perang Badar masih mending, menang. Perang Uhud sangat menyakitkan, 70 orang menjadi syuhada. Ada Hamzah, Mushab. Ada yang dipotong hidungnya, telinganya, dikeluarkan isi perutnya, dikunyah-kunyah jantungnya.

Rasulullah terluka. Namun makin pahit lagi adalah perang Ahzab. Kalau kata orang munafik, kencing pun sampai tak sempat. Ya karena begitu mencekamnya keadaan waktu itu.

Makin gelap, makin gelap, makin gelap, makin dekat kepada fajar.

Inilah iman. Iman itu diuji oleh Allah. Seperti halnya Siti Hajar yang diuji oleh Allah. Apakah lalu ketika mengatakan, "Kalau ini perintah Allah, maka sekali-kali Allah tidak akan pernah menyia-nyiakan kami."
Apakah langsung turun hidangan dari langit?
TIDAK! Semua akan diuji.
Maka bekalnya pun habis, air susunya kering, dan Ismail kecil mulai menangis. Apa yang dilakukan? IKHTIYAR!

Dia naik ke Safa, dia amati apakah ada orang yang bisa dimintai tolong. Dia amati ke bawah apakah ada air yang bisa diminum. Bergerak dia ke Marwah, naik ke Safa. Terus bolak-balik sampai tujuh kali. 
Kemudian apa yang terjadi? Airnya muncul di bawah kaki Ismail. Coba kita yang jadi Siti Hajar, pasti berujar, "Ya Allah kok ga dari tadi gitu ya, sudah bolak-balik. Lha ya munculnya malah di sini."

Tugas kita untuk membuktikan iman dan keyakinan kita kepada Allah adalah dengan berikhtiyar semampu, sejauh jangkauan kita menunjukkan pada Allah.

Rezeki, penyelesaian, keajaiban, semua terserah Allah meletakkannya di mana.


J

Tidak ada komentar:

Posting Komentar