Minggu, 24 Juli 2011

Lakukanlah dengan Hati

              “Kau sangat ingin debut?” tanya Oh Hyuk, melihat Hye Mi yang terlihat sangat gembira.
            “Tentu saja, jika debut aku bisa membayar  hutang-hutang kita. Aku juga bisa membayarmu.” Ujar Hye Mi.
            “Kalau itu alasanmu, lebih baik tidak usah debut. “ kata Oh Hyuk dengan tenang.
            Itu adalah petikan percakapan Oh Hyuk -guru sebuah sekolah musik- dengan Hye Mi -salah seorang siswinya- dalam drama Dream High episode sebelas. Jika kita memperhatikan percakapan itu dengan teliti tentu kita bisa menemukan sesuatu pesan yang aku rasa itu sangat berguna untuk kita. Kalau aku bisa tebak dari penilaian sudut pandangku inti pesannya itu, “Lakukanlah dengan hati.”

            Petikan dari percakapan diatas menceritakan tentang ambisi Hye Mi yang ingin melakukan debut bernyanyi, Hye Mi bersemangat sekali saat mendapat tawaran kontrak dari sebuah perusahaan terkenal. Namun sayang, saat Hye Mi mengatakan ingin debut agar bisa membayar hutang-hutangnya yang begitu banyak, sang guru malah menyuruhnya lebih baik tidak usah debut jika alasan yang diutarakan Hye Mi seperti itu. Sebenarnya Oh Hyuk ingin mengajarkan tentang segala sesuatu yang dilakukan atas dasar selain “hati” atau “kecintaan” maka semuanya itu akan sia-sia, apalagi dipercakapan diatas mengarah pada keinginan materi, walaupun keinginan tersebut (dalam petikan drama) bernilai positif. Sesaat kemudian aku teringat akan kisahku sendiri. Maukah mendengarkannya?
            Aku mulai (sedikit) mendalami tulis menulis ini baru-baru aja. Mulai berani ikut lomba sana-sini, ngirim tulisan ke penerbit, semuanya aku mulai baru aja di tahun 2011 ini. Tulisan-tulisanku awalnya masih kebawa dari kebiasaan nulis buku harian, jadi kebanyakan tulisanku kurang lebih seperti ini nih, ada embel-embel curhat. Tapi aku suka dengan ciri khas yang aku punya ini. Setidaknya aku bisa menyebut beberapa tulisanku adalah “tulisan hati”. Kenapa begitu? Iya karena setelah aku menjudge diriku mencintai tulisan dan dunia didalamnya, aku menemukan hatiku berbicara saat menuangkannya ke dalam sebuah cerpen, puisi, dll.
            Beberapa tulisan yang telah membuatku semakin semangat diantaranya adalah cerpen Menanti Kepastian dibawah Tenda, Vey’s Day, SENSOR, Bintangku, Jangan Membenci Hujan, Jangan Terlalu Sibuk, Tiga Pekan Bersamamu, dan puisi yang berjudul Profesor Kocak. Pasti kalian bertanya-tanya, kenapa bisa gitu? Karena tulisanku yang kusebut tadi alhamdulillah bisa lolos lomba, dan tiga diantaranya masuk dalam buku antologi. Eits jangan ngejudge aku sombong dulu dong, hehe. Sebelum aku bisa tembus itu juga mengalami fase “sering ditolak” loh, bahkan tak jarang aku mendapat kritik super pedas tentang tulisanku. Tapi tetap, kembali ingat postinganku yang waktu itu tentang si siput. “Jangan takut dibilang siput yang lambat.”
            Aku mengikuti lomba itu mulanya berdasar dari “hati”, murni kecintaan pada dunia tulis menulis, namun lambat laun aku merasa diriku tercemar, rasa cintaku bercabang ingin mendapat hadiah dari lomba, semenjak itu aku benar-benar menjadi pemilih dalam mengikuti event lomba. Hal pertama yang aku tengok adalah “hadiahnya apa”. Banyak tulisanku yang aku rasa bagus bahkan lebih bagus dari tulisan-tulisanku yang dahulu pernah terbit ternyata gagal dalam lomba. Sempet aku merasa “males” untuk menggeluti dunia kepenulisan ini lagi. Namun aku kembali bersemangat lagi setelah aku mendapatkan kunci permasalahannya.
            Aku tak mengikutkan hati saat menulis, itulah yang membuat gagal. Lain dengan tulisanku yang dulu, aku selalu mengikutkan hati dan berprinsip “yang penting ikut berpartisipasi”, bahkan tak ada sedikitpun rasa ingin mendapat sesuatu balasan dari tulisan yang aku tulis selain ingin “share.”
            Bagaimana? Masih mau melakukan sesuatu tanpa mengikut sertakan si “hati”?
Masih ga mau belajar dari pengalamanku? Padahal "hati" adalah salah satu kunci untuk kita sukses, tentunya selalu tetap berdoa dan berserah padaNya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar