Selasa, 22 Februari 2011

Bukan Sepatu Cinderella

          Diriku bangun sesaat setelah terdengar pintu kamar yang terbuka, ditambah dinginnya udara pagi yang merangsak masuk melewati celah-celah dinding bambu.
            “Ulil bangun.. sudah jam 3” suara emak yang halus, semakin membuat diriku untuk cepat beranjak dari tempat tidur yang terbuat dari kayu dipan sederhana.
            Dinginnya pagi yang menusuk ke dalam pori-pori tubuhku semakin terasa saat basuhan air wudhu mengalir tepat di wajahku. Aku tak mempedulikannya, biar saja toh ini akan membuatku sedikit segar.

            Kurajut bait-bait doa dalam sholat tahajjud bersama adekku -Ruri- yang masih baru berumur 7 tahun itu. Sudah seperti hal wajib bagiku dan adekku melakukan rutinitas ini, emak yang mengajari kami untuk melakukannya. Selesai bermunajat, tak lantas bagi kami untuk melanjutkan tidur. Kami berdua bergegas membantu emak menyiapkan kue-kue untuk dijajakan di pagi hari. Hanya dari penghasilan berjualan kue berkelilinglah emak membiayai sekolah kami. Terkadang beliau juga menjadi buruh cuci untuk mencucikan baju-baju para tetangga yang keadaannya lebih berada dari kami.

            “Mak.. kue yang bakal Ulil bawa ke sekolah yang mana?”
            “Yang disebelahnya kotak biru itu nak”
            “Oh ini ya mak? Ada berapa ini mak?”
            “20 buah nak”
            “Oh iya, semoga laris semua ya mak”

            Jam menunjuk angka 06.45 saat aku memakaikan sepatu mungil di kaki Ruri. Maklumlah, karena Ruri masih belum terlalu fasih mengikat tali sepatunya sendiri.
            “Kak, sepatu Ruri umur berapa sih? Kok kaya’nya lebih tua dari umur Ruri ya?” Ruri menggoyang-goyangkan kaki kanannya.
            “Huss kamu ini, sudahlah di syukuri saja. Sana pergi sekolah, ntar terlambat ga bisa masuk kelas”
            “Oke kakakku sayang” Ruri mencium punggung tanganku dan emak.
            “Assalamualaikum dadah..” Ruri tersenyum melambaikan tangannya sembari berlari-lari kecil meninggalkan rumah.
***
            “Nak kamu sekolah jam berapa?” suara emak membuyarkan lamunanku saat mencuci baju.
            “Oh jam 1 mak”
            “Yasudah.. kalau begitu, emak titip rumah ya, kalau adekmu sudah pulang tolong di ambilkan makan siangnya. Sekarang emak mau jualan dulu”
            “Iya mak”

            Selesai mencuci baju aku pun membersihkan rumah, meskipun rumah kami berukuran kecil dan berlantai tanah. Setidaknya aku tetap mengikuti sunnah Rosul yang mengatakan “Kebersihan adalah sebagia dari iman”

            Jam menunjuk angka 12.30 aku pun tengah bersiap-siap untuk pergi sekolah, nasi beserta lauk pauk sederhana sudah kusiapkan di meja untuk makan siang Ruri.
***

            MALAM HARI
            “Kak.. tadi Ruri habis nangis” suara polos yang dibuat oleh Ruri membuatku mengalihkan buku bacaan yang ada di depanku.
            “Loh kenapa nangis sayang?” aku membelai rambut lurus Ruri dengan penuh kasih sayang. Tiba-tiba Ruri mengeluarkan sebuah sepatu dari belakang roknya.
            “Ini kak” suaranya semakin melemah dan kini Ruri menundukkan kepalanya. Ruri menyodorkan sepatu bututnya, ternyata sepatu mungilnya memang benar-benar sudah tak layak pakai. “Tadi saat pelajaran olahraga sepatu Ruri.. hiks hiks hiks” Ruri tak melanjutkan penjelasannya. Yang ada dia malah terisak nangis di pelukku.
            “Iya kakak tau sayang, nanti kakak belikan yang baru ya. Tapi untuk sementara waktu kamu pake sepatu kakak dulu. Kamu jangan bilang emak, kasian sudah terlalu banyak beban yang di pikulnya”
            Ruri mengangguk tanda setuju.
***

            Sesekali aku melihat jam, “Aduh Ruri kok belum pulang sih. Sudah jam berapa ini”
            “Kaaaaak ini sepatunyaaaa” Ruri berteriak dikejauhan sambil berlari-lari dengan sepatu yang kebesaran itu.
            "Cepatlah !!!"
            “Hhh.. Maaf kak, Ruri terlambat pulang” suaranya terengah-engah, mungkin karena efek dia yang habis berlarian untuk cepat-cepat pulang ke rumah.
            “Iya, sudah ayo cepat lepas sepatunya. Kakak harus cepat-cepat nih pergi ke sekolah”
Selesai mengganti sepatu dari kaki Ruri ke kaki milikku, aku pun segera mengambil langkah seribu untuk pergi sekolah. "Semoga tidak terlambat" gumamku dalam hati.

            Hal ini ku lakukan sudah hampir seminggu, bergantian mengenakan sepatu dengan Ruri. .
***

            Aku mencoba menghitung uang tabunganku yang ku kumpulkan di kaleng bekas, ternyata cukup banyak. Sekitar 50 ribu. “Berarti besok aku bisa membelikan Ruri sepatu baru” senyumku membayangkan Ruri dengan sepatu barunya. Tak apalah uang untuk membeli membeli buku latian soal-soal ku pakai dulu. Toh aku masih bisa pinjam dari perpustakaan.sekolah untuk belajar, sekarang yang paling penting sepatu untuk Ruri. Kasian sekali, dia selalu mengenakan sepatu kebesaran, sungguh aku tak tega melihatnya.

            “Ruri, hari ini kita jalan-jalan ke pasar yuk!!!”
            “Mau ngapain kak?”
            “Beli sepatu”
            “Buat Ruri kak?”
            “Iya”
            “Dapat uang darimana?”

            Sudahlah jangan banyak tanya. Sesampainya di pasar. Ruri tampak senang sekali karena sekarang sepatu baru sudah ada di tangannya.
            “Alhamdulillah, aku bisa melihat senyum Ruriku lagi” pekikku pelan seraya memasukkan uang kembalian yang masih tersisa 5 ribu ke dalam kantong bajuku.
            “Terima kasih kakak”
            “Sama-sama peri kecilku”

            Walaupun bukan sepatu kaca layaknya Cinderella, cukuplah sepatu bewarna hitam polos itu membuat Ruriku tersenyum.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar