Senin, 07 Maret 2011

Mencintai Sejantan Ali

Ini nih kisah paling romantis dan paling favorit, menurutku sih
Tapi aku yakin 100% kalian juga pasti sepakat denganku
^^
Yuk dibaca !


    Ada rahasia terdalam di hati Ali yang tak dikisahkannya pada siapapun.
Fatimah.. Karib kecilnya, puteri tersayang dari Sang Nabi sungguh mempesonanya. Kesantunannya, ibadahnya, kecekatan kerjanya, parasnya.

    Lihatlah gadis itu pada suatu hari ketika ayahnya pulang dengan luka memercik darah dan kepala yang dilumur isi perut unta. Ia bersihkan hati-hati, ia seka dengan penuh cinta. Ia bakar perca, ia tempelkan ke luka untuk menghentikan darah ayahnya. Semuanya dilakukan dengan mata gerimis dan hati menangis. Muhammad SAW tak layak diperlakukan demikian oleh kaumnya!
Maka gadis cilik itu bangkit. Gagah ia berjalan menuju Ka’bah. Di sana, para pemuka Quraisy yang semula saling tertawa membanggakan tindakannya pada Sang Nabi tiba-tiba dicekam diam. Fatimah menghardik mereka dan seolah waktu berhenti, tak memberi mulut-mulut jalang itu kesempatan untuk menimpali.
Mengagumkan!
Ali tak tahu apakah rasa itu bisa disebut cinta.

    Tapi, ia memang tersentak ketika suatu hari mendengar kabar yang mengejutkan. Fatimah dilamar seorang lelaki yang paling akrab dan paling dekat kedudukannya dengan Sang Nabi. Lelaki yang membela Islam dengan harta dan jiwa sejak awal-awal risalah. Lelaki yang iman dan akhlaqnya tak diragukan, Abu Bakar Ash Shiddiq.

    ”Allah mengujiku rupanya”, begitu batin Ali.
    Ia merasa diuji karena merasa apalah ia dibanding Abu Bakar. Kedudukan di sisi Nabi? Abu Bakar lebih utama.

    ”Inilah persaudaraan dan cinta”, gumam Ali.
    ”Aku mengutamakan Abu Bakar atas diriku, aku mengutamakan kebahagiaan Fatimah atas cintaku.”

    Beberapa waktu berlalu, ternyata Allah menumbuhkan kembali tunas harap di hatinya yang sempat layu. Lamaran Abu Bakar ditolak. Ah, ujian itu rupanya belum berakhir. Setelah Abu Bakar mundur, datanglah melamar Fatimah seorang ’Umar bin Khattab. Ali, sekali lagi sadar. Dinilai dari semua segi dalam pandangan orang banyak, dia pemuda yang belum siap menikah. Apalagi menikahi Fatimah binti Rasulullah! Tidak. ’Umar jauh lebih layak. Dan Ali ridha.

    Lamaran ’Umar juga ditolak. Menantu macam apa kiranya yang dikehendaki Nabi?

    ”Mengapa bukan engkau yang mencoba kawan?”, kalimat teman-teman Ansharnya itu membangunkan lamunan.
    ”Mengapa engkau tak mencoba melamar Fatimah? Aku punya firasat, engkaulah yang ditunggu-tunggu Baginda Nabi..”
    ”Aku?”, tanyanya tak yakin.
    ”Ya. Engkau wahai saudaraku!”
    ”Aku hanya pemuda miskin. Apa yang bisa kuandalkan?”
    ”Kami di belakangmu, kawan! Semoga Allah menolongmu!”

    Ali pun menghadap Sang Nabi. Maka dengan memberanikan diri, disampaikannya keinginannya untuk menikahi Fatimah. Lamarannya berjawab, ”Ahlan wa sahlan!” Kata itu meluncur tenang bersama senyum Sang Nabi. Dan ia pun bingung. Apa maksudnya? Ucapan selamat datang itu sulit untuk bisa dikatakan sebagai isyarat penerimaan atau penolakan. Ah, mungkin Nabi pun bingung untuk menjawab. Mungkin tidak sekarang. Tapi ia siap ditolak. Itu resiko. Dan kejelasan jauh lebih ringan daripada menanggung beban tanya yang tak kunjung berjawab. Apalagi menyimpannya dalam hati sebagai bahtera tanpa pelabuhan. Ah, itu menyakitkan.

    ”Bagaimana jawab Nabi kawan? Bagaimana lamaranmu?”
    ”Entahlah..”
    ”Apa maksudmu?”
    ”Menurut kalian apakah ’Ahlan wa Sahlan’ berarti sebuah jawaban?”
    ”Dasar tolol! Tolol!”, kata mereka
    ”Eh, maaf kawan.. Maksud kami satu saja sudah cukup dan kau mendapatkan dua! Ahlan saja sudah berarti ya. Sahlan juga. Dan kau mendapatkan Ahlan wa Sahlan kawan! Dua-duanya berarti ya!”

    Ali pun menikahi Fatimah.

    Dengan keberanian untuk mengorbankan cintanya bagi Abu Bakar, ’Umar, dan Fatimah. Dengan keberanian untuk menikah. Sekarang, bukan janji-janji dan nanti-nanti. Ali adalah gentleman sejati. Tidak heran kalau pemuda Arab memiliki yel, “Laa fatan illa Aliyyan! Tak ada pemuda kecuali Ali”

Inilah jalan cinta para pejuang.
Jalan yang mempertemukan cinta dan semua perasaan dengan tanggung jawab.
Dan di sini, cinta tak pernah meminta untuk menanti.
Seperti Ali.
Ia mempersilakan.
Atau mengambil kesempatan.
Yang pertama adalah pengorbanan.
Yang kedua adalah keberanian.

     Dan ternyata tak kurang juga yang dilakukan oleh Putri Sang Nabi, dalam suatu riwayat dikisahkan
bahwa suatu hari (setelah mereka menikah)
Fatimah berkata kepada Ali, “Maafkan aku, karena sebelum menikah denganmu. Aku pernah satu kali merasakan jatuh cinta pada seorang pemuda”
Ali terkejut dan berkata, “kalau begitu mengapa engkau mau menikah denganku? dan Siapakah pemuda itu?”
Sambil tersenyum Fatimah berkata, “Ya, karena pemuda itu adalah Dirimu

     Kisah ini disampaikan disini, bukan untuk membuat kita menjadi mendayu-dayu atau romantis-romantisan.
     Kisah ini disampaikan, agar kita bisa belajar lebih jauh dari Ali dan Fatimah.
     Bahwa ternyata keduanya telah memiliki perasaan yang sama semenjak mereka belum menikah tetapi, dengan rapat keduanya menjaga perasaan itu.
    Perasaan yang insyaAllah akan indah ketika waktunya tiba.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar