Kamis, 24 Maret 2011

Nadir yang Menghilang

           Ku tekan lagi dibagian dadaku. Berharap ada sesuatu yang membulat tajam untukku merasa hal yang berbeda. Tapi tak ku temukan hal itu. Lama aku mencobanya, bahkan berulang kali. Hasilnya  masih sama seperti yang tadi dan bahkan tak ada beda sama sekali.
Detak jantungku berdetak normal, tak ada irama naik turun seperti dulu saat pertama kali aku mengenalnya. Kutangkupkan kedua tanganku menutupi wajah.
            “Oh Tuhanku, apakah Engkau benar-benar tlah menariknya untuk kebaikanku? Seperti doaku disetiap sujudku” jeritku dalam hati.
            Benar-benar kali ini tak ada sentuhan angin sahara di tengah hatiku yang berkelana.
            “Harusnya aku termakan cemburu atau apalah, setidaknya ada gejolak disini. Tapi kenapa yang aku rasa hanya BIASA. Kemana nadirku menghilang?” gumamku memecah hening di ruangan 3x3 meter ini.
            Ku lihat lagi lekuk-lekuk diwajahnya yang khas dengan mekanikanya. Demi monitor yang masih menyala. Tak ada beda. Tak ada sesuatu yang meronta untukku sekedar senyum atau membuat garis emosi di wajahku. “Aneh” ucapku serta merta menanggapi foto yang didepanku kini. Di lembar elektronik yang tak bernyawa.

Hari ini kotaku diguyur hujan
Tepat saat dirimu berada dibelahan bumi sana
Jauh..
Jarak pandang kita
Hanya sebatas di lembar elektronik

Hari ini aku menikmati hujan
Rintiknya mampu membaur
Dengan bulir-bulir si kristal bening
Diantara kedua bola mata

Simfoni yang indah
Namun asa tetaplah asa
Tak ada bait rasa
Disini
Hanya biasa

Tapi sesak terasa
Menggumul makna
Tersirat dan tersurat
Beginilah nyata
Apa adanya

Kala BIASA untuk yang istimewa

Tidak ada komentar:

Posting Komentar