Senin, 07 Maret 2011

Umar bin Khattab

 Pada masa pemerintahan Umar, kekeringan mengepung negerinya. Tanah-tanah menghitam bagai terbakar, pepohonan kering meranggas, dan air dalam sumur tak lagi melimpah. Umat Islam saat itu mengalami masalah ekonomi yang pailit. Sebagai bentuk keprihatinan dan kebersahajaannya, Umar pun mengurangi diri sendiri dari nikmatnya makan minum.


    Konon selama itu ia hanya makan cuka dan minyak goreng. Seringnya mengkonsumsi makanan tersebut, menjadikan wajahnya tak bercahaya dan nyaris menghitam, padahal semua orang tahu bahwa paras awal wajah Umar adalah tampan oleh kulitnya yang putih bersih. Hingga pada suatu saat, rakyatnya dibuat kagum karena Umar berpidato dengan pakaian yang penuh dengan tambalan di sana-sini sebanyak 12 lubang.

     Yang paling terkenal dari perjalanan Umar adalah saat ia melakukan inspeksi mendadak tengah malam pada rakyatnya. Saat itu didapatinya seorang ibu yang sedang merebus batu untuk menenangkan anak-anaknya yang lapar. Umar yang masih menyembunyikan identitasnya kaget dan merasa bersalah karena si perempuan itu mengatakan bahwa pemimpinnya telah melalaikan dirinya.

     Malam itu juga Umar mendatangi gudang makanan dan meminta pembantunya menaikkan sekarung tepung dan lemak ke punggungnya. Lalu Umar berjalan sekian lama dengan memanggul bekal makanan. Tak sampai di situ, Umar pun memasakkan makanan untuk anak-anak si ibu tersebut hingga mereka bisa tenang dan tertidur.
***
     Jangan lagi ditanyakan bagaimana loyalitas dan pengorbanan sosok Umar pada saat ia menjabat sebagai khalifah. Beliau adalah sosok tauladan pemimpin yang tak akan ditemui pada masa sekarang. Segala kepentingan rakyat di atas segala-galanya termasuk kepentingan pribadinya. Umar adalah simbol keadilan, mau mengorbankan diri, baik harta dan jiwanya sendiri.

    Maka tak berlebihan jika kemudian Umar mendapat gelar Amirul Mukmininpemerintahnya orang beriman. Sebagai pemimpin ia adalah lelaki yang menjauhi kemewahan duniawi. Ia tidak memperkaya diri dari jabatannya yang ia sandang. Lebih baik anak dan istrinya kelaparan, dari pada rakyat yang lain tidak makan.

     Subhanallah...

2 komentar: