Senin, 07 Maret 2011

Tatapan Sinis Si Lampu Kuning

           Dinda masih terus saja terisak, nyaris semua baju yang ada di lemarinya dikeluarkan dan dimasukkan ke dalam koper hitam yang berukuran besar. Masih teringat jelas memoar-memoar 8 tahun silamnya. Saat Dinda masih menjadi seorang gadis SMA yang bersekolah di desa tempat kelahirannya.
Kenangan bersama ibunya yang sudah renta. Tawa dan tangis saat tinggal di rumah berukuran kecil. Hingga detik-detik pertengkaran di kala hujan yang mengakibatkan Dinda kini berada di sebuah kota metropolitan. Kota yang sangat jauh dari tempat kelahirannya.

            Dalam isaknya, Dinda berlari mempercepat langkah kakinya menuju gerbang depan rumah untuk menanti sebuah taxi yang akan membawanya ke airport. Hujan yang membasahi tubuhnya tak lagi ia pedulikan.
***

            Beberapa jam berlalu, kini Dinda berada dalam sebuah bus yang kan membawanya ke desa tempatnya tinggal. Dalam diamnya Dinda mencoba mengambil sebuah kertas lusuh yang ada di kantong jaket sebelah kanan. Dibukanya perlahan dibacanya dengan teliti tiap baris kalimat yang ada di dalamnya, belum selesai, kembali ia mengeluarkan butiran-butiran kristal bening dari kedua matanya. Sepucuk surat yang ia terima 2 hari lalu. Surat yang memberinya kabar bahwa ibunya yang 8 tahun ia tinggalkan sedang sakit. Nanar matanya menatap jauh, tatapannya kosong menerawang lagi kejadian-kejadian silamnya.
            ”Bodoh bodoh bodoh,” Dinda mengumpat dirinya sendiri
            ”Tak seharusnya aku meninggalkan ibuku seorang diri, anak macam apa aku ini? 8 tahun bukan waktu yang singkat!!!” perasaan Dinda semakin tak karuan. Yang ia inginkan hanya satu, Dinda ingin segera bersimpuh dihadapan kaki ibunya untuk meminta maaf. Ya hanya itu.

            Lambat laun bus yang ditumpanginya mulai melaju kencang, persis seperti yang Dinda rasakan. Pikiran Dinda melaju kencang menuju pemikiran-pemikran yang terjun begitu saja kedalam kubangan tanda tanya ”Sakit apa ibuku? Separah apa?”
***

            Pemandangan yang tidak berubah, Dinda masih bisa melihat dengan jelas meskipun malam sudah beranjak dari peraduannya, pagarnya, pohon kenari depan rumah, semua masih terlihat sama, hanya saja cat rumah yang berwarna hijau itu kini sudah pudar, mungkin termakan waktu. Dinda mengetuk pintu, ”Assalamu’alaikum.. tok tok tok” berkali Dinda melakukannya, tapi tetap tak ada jawaban.
            ”Cari mbok Surti?” seorang anak kecil berkepang dua yang berumur sekitar 7 tahun itu membuyarkan lamunan Dinda.
            ”He’em” Dinda menjawab singkat ditambah anggukan.
            ”Mbok Surti di rawat di RS Bakti Jaya,” ujarnya.
            Anak kecil itu masih memandangi Dinda, sesaat kemudian dia berlari dan menghilang ditengah semak-semak. Dinda tak mempedulikan siapa dia, walaupun sepertinya Dinda cukup familiar dengan wajah anak kecil tadi.

            Bergegas Dinda pergi menuju RS Bakti Jaya, sesampainya dia disana, segera Dinda pergi ke meja resepsionis untuk menanyakan kamar tempat ibunya di rawat.

            Kamar 70B di lantai 3, Dinda membuka pintu yang ada di depannya. Saat pintu terbuka penuh, Dinda melihat sosok ibunya terbaring lemah tak berdaya. Wajahnya semakin keriput. Dinda berjalan mendekatinya, ”Ibuuuuuu maafkan Dinda...” tangisnya membuncah. Kaki yang menopang tubuhnya seakan lunglai, Dinda bersimpuh memegang tangan ibunya.

            Mbok Surti -Ibu Dinda-, melepaskan genggaman tangan Dinda ”Pergilah, kau bukan anakku lagi!!!” Mbok Surti memalingkan wajahnya.
            ”pergiiiiii...” teriaknya semakin keras, suaranya terdengar begitu parau.

            Dinda terlonjak, Dinda berlari keluar kamar. Tangisnya semakin deras, dia keluar dari rumah sakit... berlari kencang menembus pekatnya malam, hujan deras yang mengguyur tubuhnya tak ia pedulikan. Sampai akhirnya dia tersadar dia berada di tengah jalan, karena sorot lampu kuning yang menyilaukan matanya dan suara dencitan keras yang membuatnya seketika ”Brukk” tubuhnya terhempas. Sesaat sebelum Dinda memejamkan mata, ia sempat melihat anak kecil berkepang dua yang ia temui di rumahnya tadi, dia sedang menatapnya dalam-dalam. Dinda teringat, memoar lamanya terputar lagi. Gadis kecil itu adalah sosok kecilnya dulu. ”Dia menjemputku kah?”

            Dinda terpejam untuk selamanya

By: eL

Tidak ada komentar:

Posting Komentar